Indahnya memaafkan dihari yang Fitri

Dalam sekian tahun perjalanan hidup kita di dunia yang indah ini, pasti kita pernah mengalami yang namanya “disakiti” oleh orang lain; baik secara fisik maupun mental (perasaan). Karena kita adalah makhluk sosial maka kita tidak bisa tidak meski bergaul dan berinteraksi dengan orang lain yang memiliki beraneka ragam kepribadian. Dari interaksi inilah mungkin sekali kita pernah “tersakiti”. Jika yang disakiti adalah fisik kita, mungkin esoknya sudah sembuh. Namun jika yang disakiti adalah hati kita, akan sangat sulit untuk menyembuhkannya. Bahkan tidak sedikit manusia yang membawa luka hatinya sampai mati; sungguh mengenaskan! Luka hati ini biasanya akan berbuah “dendam” yaitu amarah yang terpendam.

Memang wajar bila perasaan kita disakiti oleh orang lain maka kita akan sakit hati, dan lebih parah lagi menjadi pendendam sejati. Apakah menyimpan dendam itu baik? Tentu tidak! Bahkan bisa dikata: bahaya. Terus, apa dong bahaya mendendam?

Adi W.G., seorang pakar mind technology dan ahli hypnotherapy menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa Banyak orang yang mengalami kesulitan untuk maju dan berkembang karena energi psikis mereka terkuras untuk mempertahankan emosi marah dan dendam pada seseorang. Emosi negatif yang tetap “dipelihara” dengan sangat tekun ini ia sebut dengan vampir energi psikis.

Demikian mengerikan pengaruh dari emosi marah dan dendam pada diri kita. Kita selama ini mengira bahwa dengan mendendam orang yang pernah menyakiti kita, itu akan menjadi balasan yang setimpal. Ternyata kita salah karena justru kitalah yang jadi makin menderita sendiri.

Lalu agar kita bisa bebas dari belenggu dendam yang jadi vampir energi psikis kita itu bagaimana caranya?

Caranya mudah, tapi juga susah… Mudah, karena kita tinggal meneladani akhlak Nabi Muhammad saw ketika beliau dihina, diludahi, dilempari batu atau kotoran onta, bahkan hendak dibunuh oleh orang-orang kafir ketika Islam baru turun ke bumi (masa awal Nabi berdakwah). Apa itu? Ya, benar… Jawabnya adalah dengan MEMAAFKAN! Beliau selalu memaafkan mereka dengan tulus, bahkan beliau menengok orang yang sering meludahinya ketika ia sakit sehingga si kafir itu masuk Islam melihat betapa mulianya akhlak Nabi Muhammad saw yang begitu agung tersebut. Beliau adalah sosok teladan yang paling pemaaf. Kemuliaan akhlaknya begitu memukau sehingga berbondong-bondong warga Arab masuk Islam.

Tapi kenapa “memaafkan” itu susah? Ya, karena kita selalu mencari pembenaran kenapa kita harus marah dan dendam. Kita selalu merasa berhak dan pantas marah/dendam kepada orang yang menyakiti kita tanpa pernah mau mencoba melihat sesuatu yang menyakitkan itu dari sudut pandang yang berbeda. Coba sekali-kali kita berpikir dari sudut pandang orang yang menyakiti kita, mungkin kita akan bisa bersikap lebih obyektif. Tapi kata-katanya sungguh menyakitkan? Tapi ia telah menghina saya? Tapi ia telah berkhianat? Tapi ia benar-benar tak berperasaan? Tapi…? Tapi…? Kita bisa mencari seribu alasan lain!

Eh, tahu nggak? Sesungguhnya orang lain menyakiti kita sebenarnya karena mereka adalah manusia lemah. Makanya jangan sedih kalau kita disakiti. Kita pantas bersyukur karena dengan mengalami “disakiti” kita mendapat peluang untuk mencontoh akhlak Nabi, yakni memaafkan.

Adi W.G. juga menyatakan bahwa memaafkan tidak berarti kita menyetujui. Memaafkan melibatkan keinginan untuk melihat sesuatu dengan sudut pandang yang lain – untuk bisa memahami dan melepaskan. Lebih jauh Adi menjelaskan, “Saat kita memaafkan dengan tulus orang yang pernah menyakiti kita, maka yang terjadi adalah kita menyingkirkan vampir energi psikis yang selama ini menyedot energi kita tanpa kita sadari, dan sejak saat itu energi kita meningkat drastis, vibrasi kita meningkat, dan kita mulai memanifestasikan sukses dengan sangat cepat dan mudah.”

Dalam Al Qur’an surat Asy Syuura ayat 40, dengan sangat indah Alloh SWT berfirman yang artinya: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik* maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

Yang dimaksud berbuat baik di sini ialah berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepada kita.

Sudahlah kawan, sudah tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak memaafkan. Sebentar lagi adalah Hari Raya Idul Fitri, yang akan menjadi momen yang paling tepat bagi kita untuk memaafkan. Lalu, siapa yang dimaafkan? Pokoknya siapa saja yang pernah–dengan sengaja atau tidak—menyakiti kita, baik secara lahir maupun batin. Mungkin dia teman yang pernah mengecewakan perasaan Anda. Mungkin dia mantan kekasih yang mengkhianati Anda. Mungkin dia orang yang pernah menghina atau memfitnah Anda. Atau mungkin juga dia orang yang telah mengubur harapan Anda, yang membuat cinta Anda yang seputih salju berubah menjadi kenangan duka. Maafkanlah semuanya karena maaf itu indah…

Ada hukum tidak tertulis yang berlaku di alam semesta ini. Apa itu? Hukum itu adalah Hukum Sebab – Akibat atau Hukum Tabur – Tuai yang berbunyi: Apa pun yang kita tabur–melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan kita–akan kembali pada kita.

Jika Anda merasa sakit bila disakiti maka jangan menyakiti. Jika Anda sudah terlanjur menyakiti maka minta maaflah. Dan jika Anda sudah disakiti maka maafkanlah! Indah bukan…? [AR]

Salam Idul Fitri,

About ariefwidjaya

Alumni S2 Kesehatan Masyarakat Uhamka
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s